Psikiater: Anak Butuh Orangtua yang Mengakui Kesalahannya

Dream.co.id – Psikiater: Anak Butuh Orangtua yang Mengakui Kesalahannya Dream – Menjadi orangtua, terutama ibu yang melahirkan dan mengasuhnya seringkali membuat kita merasa paling benar. Hal ini mungkin sering muncul dalam sikap kita sehari-hari ketika menghadapi anak, tanpa kita sadari. Segala macam kebutuhan anak, aktivitas, pakaian, mainan, pendidikan hingga hal-hal terkecil orangtua merasa yang paling berhak untuk menentukan. Ego orangtua yang begitu tinggi ini malah kadang membuat anak malah jadi menjauh. Maksud hati ingin memberikan yang terbaik untuk anak, malah sebaliknya.Biasanya hal tersebut dipicu ketika ayah bunda ingin menjadi orangtua yang sempurna. Kenyataannya, menurut dokter Elvine, spesialis kejiwaan, tak ada orangtua yang sempurna. “Tidak ada orangtua yang sempurna, nggak mungkin kita menunggu kesempurnaan lalu menjadi seorang orangtua tuh nggak mungkin,” kata dr. Elvine. Berharap kesempurnaan malah akan jadi membuat suasana rumah jadi tidak hangat. Komunikasi tak berjalan baik, dan hubungan atara anak dan orangtua merenggang. Dokter Elvine mengingatkan orangtua kalau yang dibutuhkan anak sebenarnya adalah orangtua yang mau belajar. Terus menerus belajar memahami dan mengerti keadaan anaknya.”Mengasihi dan menyayangi anak itu adalah bagian dari proses parenting itu sendiri. Itumembutuhkan orangtua yang mau belajar dan mengakui kesalahannya,” kata dr. Elvine. Ia juga mengingatkan ayah bunda untuk menurunkan ego dalam pengasuhan. Hindari untuk menjadi pihak yang selalu merasa paling benar dan paling berhak.”Ego yang harus turun dari orangtua bahwa prinsip orangtua selalu benar. Selalu tahu apa yang dibutuhkan anak, selalu tahu apa yang terbaik buat anak dan paling mengerti anak. Harus diturunkan karena kita sebagai orangtua juga belajar,” ujar dr. Elvine. Menurutnya penting bagi orangtua untuk mempercayai anak-anaknya bisa belajar jadi individu yang lebih baik. Kadang memang keputusan anak belum tentu salah dan belum tentu benar, dan di situlah proses belajarnya.  Kuncinya adalah membuka diskusi terbuka dengan anak.”Ketika kita mau duduk bareng, mau diskusi, anak merasa didengarkan maka proses dalam keluarga itu berjalan sebagai support system,” pesannya.Sumber: dr. Elvine SpKJ

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *